SEJARAH

SEKILAS PONDOK PESANTREN HAMALATUL QUR'AN

Pondok Pesantren Hamalatul Qur’an terletak di Dusun Sumberbendo Desa Jogoroto Kecamatan Jogoroto Kabupaten Jombang. Tepatnya di Jalan Raya Jogoroto No. 11, yaitu jalan penghubung antara Mojoagung – Tebuireng.  Pondok Pesantren Hamalatul Qur’an terletak di jalur strategis penghubung antara Jalan Mojoagung menuju makam KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Pondok Pesantren Hamalatul Qur’an berada di antara beberapa pesantren besar di Jombang, seperti Pesantren Darul Ulum Peterongan, Pesantren Tebuireng Jombang, Pesantren Tambakberas dan Pesantren Denanyar. Di samping itu, di sekitar Pondok Pesantren Hamalatul Qur’an juga terdapat pesantren-pesantren tahfidz Al-Qur’an, seperti Pondok Pesantren Safinatul Huda Bandung Diwek, Pesantren Super Camp La Raiba Hanifida Bandung Diwek Jombang, Pondok Pesantren Nurul Qur’an Bendungrejo Jogoroto Jombang, dan Pondok Pesantren Al-Itqon Bendungrejo Jogoroto Jombang.

Lokasi yang strategis ini menjadikan Pondok Pesantren Hamalatul Qur’an mudah diakses oleh siapapun, sehingga mempermudah wali santri dan masyarakat yang ingin berkunjung ke Pondok Pesantren Hamalatul Qur’an. Pendiri Pondok Pesantren Hamalatul Qur’an, KH. Ainul Yaqin menyatakan bahwa Pesantren ini berdiri tidak lepas dari peran serta dan doa serta dukungan dari para kyai sepuh yang ada di Jombang dan sekitarnya, seperti KH. Husen Ilyas Mojokerto, KH. Ahmad Mustain Syafi’i Tebuireng, KH. Ahmad Syakir Ridlwan Tebuireng dan beberapa kyai lainnya. Awalnya Kyai Ainul Yaqin memiliki keinginan untuk membantu saudara dan anak-anak yang berpotensi untuk mondok dan menghafal Al-Qur’an dengan membantu biayanya di pesantren. Usaha ini didukung pula dengan beberapa dermawan yang ikut berperan dalam niat mulia ini, salah satunya adalah Bapak Doddhy Kothot Herdianto, Pimpinan PT. Gatra Kilang Persada yang berdomisili di Jakarta dan Bapak Drs. H. Amin Soeharto Pimpinan Yayasan Ulul Albab Surabaya. Dan itu sudah berlangsung sejak tahun 1985-an, di mana ketika itu Pengasuh PPHQ mendelegasikan para santri untuk belajar di beberapa pesantren, seperti Al-Mimbar (KH. Husen Ilyas) Mojokerto, Midanutta’lim (Yai Mat) Mayangan Jogoroto, dll. Dengan bekal doa restu itulah Pengasuh nekat untuk menjalankan amanah dengan bondo dengkul.

Latar belakang dimulainya aktivitas santri HQ adalah hadirnya seorang santri dari Tanjunganom Jombang, yang bernama Sufi Sulaiman. Anak yatim yang memiliki keinginan kuat untuk belajar tersebut diserahkan sepenuhnya kepada pengasuh untuk dididik, padahal ketika itu belum ada asrama santri. Karena desakan permohonan dari wali santri itulah akhirnya Pengasuh mau menerimanya dan disusul rombongan santri dari Jember rekomendasi dari (Alm.) Ust. M. Ilyasuddin, teman seperjuangan Pengasuh dalam regenerasi program Pendidikan kader Imam Tarowih 30 juz. Kegiatan sholat tarowih maqro’ 30 juz sudah dimulai sejak tahun 1994 di Jember (PP. Mabdaul Ma’arif) yang diawali dengan observasi tahun 1992 di Malang (Terbelo). Selain sholat tarowih maqro’ 30 juz, latar belakang berdirinya Hamalatul Qur’an juga tidak terlepas dari prakarsa kegiatan rutinan membaca surat Al-Waqi’ah selapan sekali pada tahun 1994, kegiatan yang berlangsung puluhan tahun itu diawali dengan khotmil qur’an bilghoib 30 juz oleh para santri.

Awal berdiri, dengan jumlah sekitar 10 santri ketika itu, Pondok Pesantren Hamalatul Qur’an belum memiliki format program pendidikan yang seperti apa, hanya berjalan apa adanya yang penting ada kegiatan mengaji dan menghafal Al-Qur’an yang terkondisikan. Adapun saat ini Pondok Pesantren Hamalatul Qur’an menerapkan sistem program tahfidz cepat (program 6 bulan) dengan syarat utama ada kemauan bagi para santri, penerapan program tersebut berawal dari kedatangan salah satu santri dari Malang yang berminat menghafal al-Qur’an, mula-mula santri yang bernama fuad itu diarahkan untuk mengikuti semua sistem yang telah disusun oleh pengasuh, dan dalam hitungan 3,5 bulan, santri tersebut mampu mengkhatamkan hafalan al-Qur’an 30 juz. Kemudian disusul santri berikutnya dari Jember yang mampu menyelesaikan tahfidz al-Qur’an 30 juz dalam waktu 4 bulan. Kabar ini cepat tersebar di kalangan masyarakat sehingga banyak berdatangan santri dari berbagai daerah untuk mengikuti jejak kedua santri tersebut.

Dari pengalaman menghafal kedua santri itulah, maka kemudian disusun setahap demi setahap sistem pendidikan di PPHQ. Dengan menggunakan metode tahfidh cepat ala JOGOROTO, para santri didesain untuk bisa menghafal Al-Qur’an dalam waktu kurang dari satu tahun. Dengan adanya metode ini diharapkan para santri bisa menempuh jenjang tahfidh dengan waktu tempuh yang tidak terlalu lama sehingga bisa segera melanjutkan studi ke jenjang berikutnya, seperti meneruskan studi di Perguruan Tinggi, konsentrasi pendalaman kitab salaf, penguasaan bahasa asing, pengabdian masyarakat, dll. Metode tahfidz cepat ala JOGOROTO itu pada prinsipnya menggunakan strategi Habituasi (pembiasaan), artinya para santri dibiasakan untuk berinteraksi dengan al-Qur’an dengan segala bentuknya, mulai dari Muroqobah, Sholat Jama’ah, dan lain-lain untuk menuju Penjagaan al-Qur’an (NJOGO) secara keseluruhan atau merata (ROTO), tidak tebang pilih pada juz-juz atau surat-surat tertentu saja, melainkan merata 30 juz, sehingga disamakan konsep “JOGOROTO”.

Konsep penjagaan al-Qur’an ala JOGOROTO itu bisa diringkas dalam tabel berikut ini: Konsep JOGOROTO tersebut berpedoman pada prinsip yang dipegang oleh Pendiri Madrasatul Qur’an Tebuireng (Hadlrotus Syaikh KH. Yusuf Masyhar), Hamalatul Qur’an menjalankan prinsip dasar pengembangan tahfidhul Qur’an yang ideal, di antaranya adalah pembinaan fashohah secara intensif sehingga para huffadh tidak hanya mampu menghafal Al-Qur’an 30 juz dengan lancar, tetapi juga dibekali dengan bacaan yang haqqut tilawah sesuai dengan standar qiro’ah muwahhadah versi Madrasatul Qur’an Tebuireng.

Scroll to Top