PP Hamalatul Qur’an dan KUHP Baru No. 1 Tahun 2023. Pasal 471 tentang Penganiayaan ringan (Bullying). Ada apa?

Bullying_PPHQ dalam rangka Yaumun Nasy’ah (hari lahir/hari tumbuh) ke 15 bergerak secara nyata dalam mendukung proses pembelajaran, mengaji dan menghafal demi tercapainya akademik yang mumpuni sehingga siap di tengah-tengah masyarakat. PP Hamalatul Qur’an dalam kali ini melaksanakan Seminar Santri Nasional yang bertajuk “Pesantren Ramah Santri, Stop Bullying, start loving, Harmoni dalam Sanubari santri” hal ini tentu sangat relevan dimana mengangkat isu bullying yang sering terjadi di lingkungan pendidikan, PPHQ bekerjasama dengan UTD PPA Jombang (perlindungan anak) untuk memberikan pemahaman kepada para santri bahwa bullying bisa membawa ke ranah Hukum. Serta tak kalah penting dari acara ini PPHQ mendatangkan ahli Psikoligis UINSA Ibu Endang Wahyuni, serta Pengasuh PPHQ Ibu Nyai Nur Kholidah sebagai Pemateri memberikan soptrapy, bagaimana efek yang sangat besar bagi kesehatan mental, dan tentu hal ini PPHQ tidak bergerak sendiri, PPHQ mendatangkan para pengurus atau pimpinan Pondok Pesantren yang ada di wilayah Jombang, sehingga hal ini di sambut sangat baik. Bullying sendiri masuk dalam kategori Penganiayaan ringan sesuai dalam KUHP baru atau dalam UU No. 1 Tahun 2023, dan tentu semua telah diatur dan disesuikan dengan keadaan dan kepastian secara hukum. Disela-sela Seminar telah usai salah satu tiem Jurnalis dan Media PPHQ (kang M. Rafa Badi’ Uddin) mengambil waktu Pemateri Ibu Endang Wahyuni, untuk menanggapi langsung berkaitan dengan bullying yang begitu maraknya di lingkungan pendidikan.

P: Menurut pemateri apa makna stop bullying, start loving, jika dilihat dari sudut pandang kehidupan santri di pesantren?

Ibu Endang: Stop bullying ya, jadi kalau di pesantren mungkin bisa dibedakan dengan yang lain. Artinya kalau di pesantren itu kan ada gojlokan, tadi saya juga bilang Bu Nyai bahwa mungkin teman-teman ketika gojlok atau ngata-ngatain  itu dalam taraf itu guyon pas serius ya. Saya pikir kalau kata-kata guyon itu kan di pondok pesantren terbiasa ya dalam tanda kutip sebagai guyonan atau gojlokan, tetapi tadi dari beberapa santri yang ditanyai bahwa kekerasan fisik tidak terjadi. Jadi misalnya mereka itu terlambat sholat dhuha, sholat tahajud yang biasanya membersihkan apa namanya… bukan fisik ya yang lain tetapi di sini hukuman-hukuman itu di sini menghafalkan Al-qur’an atau membaca Qur’an atau ayat-ayat yang dibutuhkan. Saya pikir begitu.

P: Mungkin bentuk bullying apa yang paling sering terjadi di lingkungan pesantren dan seringkali tidak disadari sebagai bullying?

Ibu Nyai: Bullying yang paling sering terjadi di pesantren adalah gojlokan tadi itu Mas ya, itu suatu candaan sih yang normal natural ya, tapi ketika candaan itu sudah mengarah pada sesuatu yang fisik atau apa ya menciderai atau membuat yang sakit hati terkait perlukaaan perasaan itu bisa dikategorikan dengan bully.

Ibu Endang: Ya kalau di pesantren biasanya maaf ya itu loh kepala yang disentuh di jendul ya kemudian tiba-tiba apa namanya dipukul tangannya itu kan candaan atau kakinya jegal kadang-kadang itu kan sebenarnya candaan walaupun itu termasuk di posisi kalau fisik ya termasuk kalau terus-terusan gitu kan itu bully. Nah ini sebenarnya di pondok bisa diminimalisir kalau dikasih tahu bahwa jangan kepala atau seperti apa ya termasuk yang psikis itu ya mengolok-ngolok, mengolok-ngolok itu menimbulkan kemarahan yang dipendam kemudian biasa mengolok-olok sederhana, bapaknya atau kakinya misalnya kakinya itu tidak lurus ya pengkor padahal itu mungkin bagi dia ketawaan ya tetapi si anak gimana caranya menghindari? Nah tadi kan kita ada kesepakatan bahwa cerita kepada pengasuh dan mungkin nanti saya tambahin dengan kita membuat SOP ya Bu Nyai ya aturan-aturan bahwa yang ini dilakukan berkali-kali dan menimbulkan ini ini ini itu termasuk pembulian dan semoga dihindari.

P: peran senioritas dalam pesantren apakah menjadi ladang pendidikan bagi para junior? Iya mungkin yang lebih tua terhadap junior apakah itu menjadi pendidikan menjadi ladang pendidikan karakter atau justru berpotensi menjadi pemicu bullying?

Ibu Endang: Ini secara umum biasanya para senior itu melakukan pada junior kemudian junior balas dendam pada ketika jadi senior ke juniornya lagi tapi itu ada di ospek, di ospek di sekolah semoga kalau di pondok tidak dengan sekarang itu banyaknya edukasi ya edukasi bullying di mana-mana sehingga orang berpikir ulang bahkan untuk berkata-kata yang agak menyakitkan aja mulai di rem. Saya mikir semoga tadi itu yang dari kakak dan dari senior ke junior itu bisa di eliminir dengan banyaknya edukasi tentang bullying.

P: Pesan kepada teman-teman santri Pondok Pesantren Hamalatul Quran, Ibu Nyai dan Ibu Endang?

Ibu Nyai: Semoga setelah hari ini kedepannya teman-teman akan menjadi lebih baik lebih fokus untuk menata ke depan dan menjadi pesantren yang ramah anak. Demikian terima kasih.

Ibu Endang: Pesan saya ketika adik-adik semua mengalami kegelisahan emosional diri mulai tidak percaya diri mulai sakit itu kalau tidak bisa speak up ditulis, dituliskan dan kemudian setelah dituliskan boleh di ini pengurus juga sudah mulai mencari bagaimana cara untuk untuk membantu mengintervensi segala permasalahan. Saya pikir diomongkan kalau nggak bisa ngomong dituliskan dan kepada siapa nanti kalau emang tidak kepada pengasuh kalau tidak nanti Bu Nyai akan membuat tim kayaknya itu ya nanti ke sana namanya di apa namanya tidak boleh siapapun membaca tentang itu. Saya pikir itu teman-teman karena apa?… Kalau ini diam saja, ini Bu Nyai sudah open sudah terbuka ya. Kalau ini diam saja tidak bisa, bahkan kalau teman-teman juga diam saja itu tidak ngerti ngoten Bu Nyai. Jadi kita kerjasama, kadang anak itu nggak bisa menahan apa yang dia mau lakukan, ya kan? Nah itu semoga nanti ke depan kita melakukan konseling ya Bu Nyai ya, ngobrol dulu mencari permasalahannya kemudian mencari solusi bersama-sama, mungkin seperti itu?

Semoga seminar pesantren ramah santri di Hamalatul Qur’an menjadikan motivasi bagi kita semua bagi santri-santri Hamalatul Qur’an, semoga tetap istiqomah dalam mengaji tanpa bullying. Amiinn

 

Penulis: M. Lutfi Gibran

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

PILIHAN PROGRAM TERBARU

# HQ Pusat KQJ HQ Children
Program Tahfidz Cepat
Metode Habituasi
Makan 3x
Pengajian Kitab
Kamar Max 70 orang Max 5 orang Max 6 orang
Kasur / Matras
Kamar Mandi Shower
Ekstrakurikuler Qori'
Sekolah Formal PPS
PKBM
Wisata Qur'an
Fashohah Exclusive
Syahriah Semampunya Rp750.000 Rp750.000
# Selengkapnya Selengkapnya Selengkapnya