Keamanan Pesantren Harus Cerdas Intelektual dan Emosional

Jogoroto.com –  Seperti yang kita ketahui, dibalik tubuh yang sehat pasti memiliki antibody yang kuat. sama halnya dengan sebuah organisasi pesantren, tidaklah lengkap jika tidak ada divisi keamanan yang berperan sebagai penegak tata tertib pesantren. 

Dalam lingkup pesantren, peran keamanan menentukan berjalan atau tidaknya pesantren dalam mendidik para santri. Seperti halnya sebuah negara dengan aparat dan prajuritnya yang senantiasa menegakkan Undang-Undang sekaligus menjaga ketertiban dan keamanan negara. 

Namun tidak cukup hanya sekedar gagah dan berwibawa, menjadi seorang keamanan pesantren juga dituntut untuk bisa mengambil sebuah keputusan yang bijak dalam menangani kasus. Oleh sebab itu, kecerdasan intelektual dan emosional harus bisa dimiliki oleh setiap anggota keamanan. 

Pada prakteknya, keamanan merupakan sebuah divisi yang paling sering bersinggungan emosi dengan para santri, khususnya santri yang bermasalah terhadap tata tertib pesantren. 

Baca Juga : Pentingnya Membangun Relasi Dan Inovasi Dalam Proses Perkembangan Pesantren

Berfikir cerdas secara emosional sangatlah penting dalam menetralkan perasaan. Tanpa adanya kecerdasan emosional, penegak tata tertib akan mengedepankan Egoisentris dan sensitif person terhadap para santri yang melanggar tata tertib. Dari situlah perlunya sebagai keamanan pesantren membangun statement bahwa eksistensi pesantren tidaklah dipengaruhi oleh personalitas, melainkan atas kuasa Alloh SWT. dengan segala kebesarannya. 

Mengasah kecerdasan emosional merupakan sebuah bentuk controling terhadap setiap individu dari terjerumusnya penyakit munafik. Jika seseorang diperlakukan dengan baik, maka dia akan berlaku baik. Sebaliknya, jika seorang tidak diperlakukan dengan baik maka dia akan menjelek-jelekkannya. Seperti halnya dijelaskan oleh Alloh SWT. dalam QS. At-Taubah ayat 58 yang berbunyi:

وَمِنْهُمْ مَّنْ يَّلْمِزُكَ فِى الصَّدَقٰتِۚ فَاِنْ اُعْطُوْا مِنْهَا رَضُوْا وَاِنْ لَّمْ يُعْطَوْا مِنْهَآ اِذَا هُمْ يَسْخَطُوْنَ ٥٨

 

Artinya : “Di antara mereka ada yang mencela engkau (Nabi Muhammad) dalam hal (pembagian) sedekah-sedekah (zakat atau rampasan perang). Jika mereka diberi sebagian darinya, mereka bersenang hati, dan jika mereka tidak diberi bagian, dengan serta merta mereka marah”.

Tidak kalah penting dengan kecerdasan emosional, kecerdasan Intelektual juga sangat dibutuhkan bagi seorang penegak hukum pesantren. Selalu bersikap tenang dalam mengambil keputusan merupakan sebuah langkah untuk menuju kemaslahatan.

Sebuah pepatah mengatakan, “orang cerdas ialah orang yang tau apa yang dia butuhkan bukan yang ia inginkan”. Dari sini kita tahu, bahwa dengan mempertimbangkan dampak yang akan timbul melalui analisa yang baik sangat menentukan tingginya persentase ketepatan dalam memberikan keputusan. 

Menjadi garda terdepan penegak peraturan pesantren bukanlah peran yang mudah. Banyak sekali risiko yang diterima mulai dari ujaran kebencian hingga ancaman kekerasan. Hal tersebut sudah menjadi sego jangan sehari-hari bagi mereka. Dengan bermodalkan mental yang kuat, keamanan harus selalu sabar dalam menjalankan amanah.

“Benarnya seperti apa tetap dianggap salah, bagusnya seperti apa tetap dianggap jelek. Karena tugas keamanan itu menyatakan Haq pada haqnya, menyatakan batil pada kebatilannya”, Kata Kiai Yaqin saat sambutan dalam acara Kopdar Keamanan.(19/9) 

Ust. Mahmud Syahrowardi, S.Sy selaku pengasuh Pondok Pesantren Hamalatul Quran Putri 1 menyampaikan, bahwa kefokusan dalam mengambil sebuah hikmah dibalik menjadi seorang keamanan itu sangatlah perlu,  sebab dalam perjalanan menjadi seorang keamanan pastinya akan dihadapkan dengan banyak permasalahan, mulai dari masalah internal sampai eksternal. 

“menjadi keamanan akan mendapat banyak pelajaran, ketika seseorang fokus terhadap pelajaran, maka pelajaran yang didapat akan banyak. Sebaliknya, jika hanya fokus terhadap permasalahan, maka permasalahan yang banyak didapat”, Imbuh ustadz Mahmud. 

Baca Juga : Menepis Anggapan, Menghafal Al-Qur’an Masa Depan Suram

Sebuah peribahasan mengatakan, “segemuk-gemuknya ikan masih memiliki duri, sekurus-kurusnya ikan juga masih memiliki daging.” Maknanya, Sebesar apapun kemanfaatan pasti ada permasalahan didalamnya. Begitupun juga sebaliknya, sebesar apapun permasalahan pasti ada kemanfaatan didalamnya, Tinggal bagaimana cara fokus seseorang dalam berfikir untuk mendapat sebuah pelajaran.

Oleh sebab itu, mengemban amanah untuk menjadi keamanan pesantren bukanlah sebuah beban, melaikankan dari situlah akan muncul banyaknya pelajaran yang akan didapat dengan melalui hikmah yang terkandung dibalik sebuah permasalahan yang dihadapi.

 

Penulis : Muham M. Mubarok

Editor : M. Maksum Ali

 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *