Ust. Mahmud : Pentingnya I’tikad Dan Fokus Dalam Menghafal Al-Qur’an

Jogoroto.com – Pada acara semaan Quran santri Karisidenan Madiun, Ust. Mahmud Syahrowardi sampaikan pentingnya i’tikad dan fokusnya dalam menghafal Al Qur’an kepada para santri. 

Beliau selaku badal dari KH. Ainul Yaqin yang udzur dalam acara tersebut menyampaikan bahwa Ketika seseorang sudah beritikad menghafal Al-Qur’an maka harus yakin yaitu dengan melakukan dan menuntaskan. Jangan sampai menunda-nunda, fokuslah pada satu tujuan.

Sebagai mana dalam berbagai kesempatan KH. Ainul yaqin berpesan bahwa tahfidz adalah sebuah prioritas yang harus dikuasai santri, sebelum belajar ilmu-ilmu yang lain.

 

Adapun beasiswa yang ditawarkan bagi orang yang hafal Qur’an, juara dalam event musabaqoh ataupun hal lain yang berkaitan duniawi. Anggap saja itu adalah sebuah bonus, bukan daripada tujuan dan inti dari orang yang menghafal Qur’an.

“وَمَنْ كَانَتِ الْآخِرَةُ نِيَّـتَهُ ، جَمَعَ اللهُ أَمْرَهُ ، وَجَعَلَ غِنَاهُ فِيْ قَلْبِهِ ، وَأَتَتْهُ الدُّنْيَا وَهِيَ رَاغِمَةٌ.

Barangsiapa yang niat (tujuan) hidupnya adalah negeri akhirat, Allâh akan mengumpulkan urusannya, menjadikan kekayaan di hatinya, dan dunia akan mendatanginya dalam keadaan hina.”

Pesan dari sebuah hadits yang disampaikan Ust. Mahmud Syahrowardi dalam sambutannya, 

Hamalatul Quran mempunyai Visi dan Misi yaitu mencetak insan Kamil hamilil Qur’an lafdzon wa ma’nan wa amalan. Sehingga perlunya bekal dan kesungguhan bagi para santri untuk mencapai tujuan tersebut.

Dari Hal tersebut dibuktikan dengan adanya berbagai program yang meliputi: adanya asrama Quran Village yang di khususkan untuk program bahasa inggris, kemudian adanya asrama Wadil Quran yang di khususkan untuk program pembelajaran _kutubus salaf_ (kitab kuning) dan bahasa arab, dan kemudian adanya program perpaduan antara pembelajaran bahasa arab dan bahasa inggris yang ditempatkan di asrama PPS (Pondok Pesantren Salaf). 

Dalam penerapan pembelajaran, Hamalatul Qur’an berupaya menghindari hal-hal yang bersifat menganggu kefokusan mengaji para santri, tidak hanya hal-hal yang bersifat hiburan, bahkan hal-hal yang dianggap positif pada umumnya akan dihindari jika dirasa mengganggu kefokusan mengaji para santri, seperti halnya banjarian, mengikuti ekstra pramuka dll. 

Sebagai penutup Ust. Mahmud menekankan “Iqroul Qur’an wartaqi”

Bacalah Qur’an dan naiklah dalam artian tidak ada kata sudah ataupun selesai bersama Al Qur’an. Baca, hafalkan, pahami dan amalkan semua yang ada di dalamnya. karena semua itu butuh proses, kegigihan dan kesabaran yang mendalam untuk memantaskan bersama Al Qur’an.

 

Penulis: Bagus A. Muzakki

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *